Showing posts with label Blog Competitions. Show all posts
Showing posts with label Blog Competitions. Show all posts

Wednesday, September 2, 2020

“Ela Manana Luar Bara Helat: How Indigenous Wisdom Can Heal The Planet”

As we know, biodiversity is all components living on this planet, consisting of various levels, such as biodiversity of the ecosystem, type, and genetic.  The existence of biodiversity is interconnected and required each other to grow and reproduce to form a living system. Therefore, biodiversity is an essential element in the sustainability of the planet and its contents, including human existence.
Biodiversity can be utilized as the source of food, medicines, energy, clothing, water and air supply, protection from natural disasters, and climate adjustment. And also, people can make use of biodiversity for social, cultural, and economic developments. But today, there are many occurrences related to environmental decay, particularly in the forest, for example, forest wildfire. These activities will adversely impact other components, both ecological and living things. 
Amazon Wildfire Brazil | Source: kompas.com
Let's explore the impact and consequence of those actions following some of the world's numerous events!
  • Amazon Forest Fire, Brazil
We can say that the Amazon forest is the largest rain forest in the world. However, in 2019 there was a terrible disaster in this forest; it was wildfire. Based on data of INPE Brazil, this increases up to 83% from the earlier period. The experts expect this increase to be due to increased deforestation. Adriane Muelbert, an ecologist, said that if deforestation continues to expand, it will impact climate change, where we lose an ecosystem that collects the carbon emission each year and that biodiversity became endangered and even extinct.
  • Kalimantan and Sumatera Forest Fire, Indonesia
As one of the megadiverse countries, Indonesia depends on the forest for food sources and livelihood because it has many and vast forests. But on the dry season in 2019, Sumatera and Kalimantan forests are burnt. According to the former police chief general, Tito Karnavian, this happens caused by a specific person to free the forest land quickly and cheaply. And based on data of the Meteorology, Climatology, and Geophysical Agency of Indonesia, air quality in Kalimantan or Sumatera reach the danger level (very unhealthy). This condition can inhibit activities and harm health surely. Another disadvantageous impact is orangutan populations which threatened and protected will become extinct. According to information from the chairman of the Foundation of International Animal Rescue (IAR) Indonesia, Tantyo Bangun said that there are two orangutans found in the tree in the middle of a burned land. The conditions are dehydrated, and there is an air rifle on one of the orangutan's faces.
  • Australia Forest Fire, Australia
The worst wildfires in Australia is stared in late July 2019. The causes of these fires are dominated by high hot temperatures and a long dry season exacerbated by climate change. The impact is that more than 7.3 billion hectares of land were fired, 27 people died, and it is estimated that about 1 billion animals die. Even koalas will become endangered animals that endemic animals of Australia.
These examples of forest detriment actions are only a handful from many defects forest and environmental which caused by human or nature. Realizing that the animals and plants which are protected and threatened will die, it is pitiful indeed. This impact is not only to animals and plants, but we also have to realize that this will affect biodiversity (by ecosystem, type, and genetic) for sure. 
Consequently, we have to protect, care, and conserve biodiversity, such as the forest, if we do not want something serious happens in the further. So, what can we do for them? We can learn from one of the struggle stories to conserve Indonesia's forests; namely, The indigenous Dayak Iban Sungai Utik people live in Kapuas Hulu District, West Kalimantan. They are very upholding customs and protect the forest. This forest covers an area of 9,480 hectares. The location is in a protected forest area surrounding 3,862 hectares, in a limited production forest area, including 5,518 hectares, and other use areas of 100 hectares. Their philosophy is "forest and nature provide their life and also show them to the world. Then, the forest is like their father, the earth is as their mother, and the water is their blood."
The Wisdom of Indigenous Dayak Iban | Source: inimulti.com
In daily life, they learn how to survive in the forest, look for fish and vegetables, and cook in nature. This habit does not mean keeping away from technological and educational developments. But instead, it becomes a challenge for them to obtain high education without leaving Iban's cultures and have to protect the forest.  By their knowledge and awareness, they always clear the road to clean water installation upstream to ensure clean water flows to each house every day. Moreover, there are many rules in Dayak Iban Sungai Utik culture, and they must obey it without exception so that their ancestors will not scold or even carry disaster to the planet. Some of the rules are if they want to cut a tree, they have to substitute twice. Also, do not allow farm at the top of the hill because it has a function to spread seeds down the mountain. Their habits, rules, and awareness of saving the forest awarded them several environmental awards, such as Equator Prize 2019, Kalpataru, and forest protection decree as customary forests.
Lastly, as we know, biodiversity is vital, not only losing some animals and plants, but also as food sources, air-water supply, and alternative income to improve life (health and education). So, let's protect, care, and conserve biodiversity by using natural materials wisely and keep the environment green!

 References:
 

Saturday, August 29, 2020

Hutan Indonesia Lestari Kenekaragaman Hayati Terlindungi

Apa yang pertama kali terlintas dipikiran kalian ketika mendengar kata Hutan? Apakah suatu tempat di mana banyaknya pohon-pohon tinggi yang menjulang sekaligus menyeramkan? Atau justru merupakan tempat kehidupan bagi flora dan fauna liar? Simpan jawaban kalian dan mari kita telusuri ‘hutan’ bersama!

Sebelum kita mengenali lebih jauh tentang hutan, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu ‘apa itu hutan?’ Mengutip dari UU RI No.41 Tahun 1999 disebutkan “Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.” Nah.. apakah kalian punya pandangan lain terkait arti hutan? Jawabannya pasti ada. Tapi, pasti tiap pandangan memiliki inti yang sama, yaitu ekosistem yang didominasi pohon.

Ekosistem hutan memiliki arti adanya keterkaitan dan ketergantungan antara makhluk hidup hutan (tumbuhan, hewan, dan mikroba) dengan lingkungan (cahaya, udara, air dan tanah). Tentunya setiap makhluk hidup saling membutuhkan satu sama lainnya untuk tumbuh dan berkembang biak. Sekumpulan makhluk hidup yang bermacam-macam ini disebut dengan keanekaragaman hayati (kehati). Kita patut berbangga bahwa Indonesia memiliki kehati yang sangat tinggi karena mempunyai keanekaragaman ekosistem yang tinggi. Salah satunya adalah banyaknya jenis ekosistem hutan yang dimiliki Indonesia, yaitu hutan mangrove; hutan pantai; hutan dipterokarpa; hutan keranggas; hutan rawa; hutan rawa gambut; hutan pegunungan; dan savana.1

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak bersama!

  • Hutan Mangrove

Hutan mangrove ditemukan di lahan yang tergenangi oleh air laut dan air tawar, sehingga hutan ini sering disebut sebagai hutan payau/bakau. Jenis hutan ini tumbuh di sepanjang pesisir pantai, muara sungai maupun rawa gambut. Hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Contoh umumnya adalah sebagai tempat penangkaran ikan dan udang; dan penahan gelombang air laut. Hutan ini dapat ditemukan di wilayah pesisir pantai yang tersebar di Indonesia.2


Hutan Mangrove di Jakarta

(sumber: perjalanannyaindah.com)

  • Hutan Pantai

Hutan pantai umumnya berada pada kondisi pasir yang kering, terbuka dan ketinggian vegetasi rendah serta bersemak. Jenis hutan ini biasanya khusus digunakan sebagai habitat dan lokasi penyu bertelur. Hutan pantai dapat ditemukan di daerah selatan Jawa, sebagaian pantai barat Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan pulau-pulau kecil yang tersebar di Indonesia.1


Hutai Pantai di Banyuwangi (Pantai Sukamade)

(sumber: ekspedisiwisata.blogspot.com)

  • Hutan Dipterokarpa

Hutan dipterokarpa merupakan hutan dataran rendah yang berada di bawah elevasi 1.000 m dibawah permukaan laut (mdpl) dan memiliki struktur vegetasi yang sangat komplek dan beragam. Jenis hutan ini disebut juga hutan hujan. Hutan ini terdapat banyak pohon yang berukuran besar dengan tinggi mencapai 70 m. 2

Jenis hutan ini umumnya menjadi habitat bagi spesies mamalia besar seperti gajah, harimau, tapir, rusa dan beruang dan bisa ditemukan di Pulau Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua. Tambahannya, lebih dari 50% kehati hutan dipterokarpa ditemukan di Pulau Kalimantan.1

Hutan Dipterokarpa di Kalimantan Timur

(sumber: BAPPENAS, 2003)
  • Hutan Kerangas

Hutan Kerangas merupakan hutan dataran rendah yang berada di bawah elevasi 800 mdpl dan umumnya tumbuh di tanah berjenis podsol (tanah pasir dengan kandungan silika tingga dan bersifat masam). Secara umum, kehati di hutan kerangas lebih rendah daripada hutan tropis lainnya, yaitu hanya ada 123 jenis tumbuhan. Jenis hutan ini dapat ditemukan di sepanjang jalan utama di Kalimantan.2

Hutan Kerangas di Desa Bawan Kalimantan Tengah

(sumber: BAPPENAS, 2003)

  • Hutan Rawa

Hutan rawa umumnya ditemukan pada kondisi air tawar dengan pH (derajat keasaman) 6 atau lebih rendah.2 Vegetasi yang tumbuh di hutan rawa sangat bervariasi, yaitu berupa rerumputan, palem, pandan, dan bahkan pohon yang berukuran besar dan tinggi. Jenis hutan ini banyak ditemukan di Pulau Sumatera bagian timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Maluku dan Papua bagian selatan.1

Hutan Rawa di Kalimantan Tengah

(sumber: triptus.com)

  • Hutan Rawa Gambut

Hutan rawa gambut umumnya ditemukan di tanah yang bersifat asam, basah dan tergenang. Vegetasi yang tumbuh di hutan ini adalah pepohonan ataupun berupa semak-semak. Hutan rawa gambut memiliki peranan penting dalam siklus hidrologi karena memiliki peran dalam menentukan jumlah emisi karbon yang diemisikan tiap tahunnya.  Jenis hutan ini dapat ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Papua dan Sulawesi.2

Hutan Rawa Gambut di Kabupaten Siak Provinsi Riau

(sumber: traverse.id)

  • Hutan Pegunungan

Hutan pegunungan di Indonesia terbagai menjadi lima zona berdasarkan ketinggiannya, yaitu pegunungan bawah; pegunungan atas; sub-alpin; alpin; dan nival. Adanya perbendaan ketinggian ini yang menyebabkan terjadinya perbedaan habitat satwa dan vegetasi yang hidup. Semakin menuju puncak gunung, jenis pepohonan yang tumbuh semakin berukuran kecil, bentuk batang tidak teratur dan tumbuh menyebar. Indonesia sendiri hanya memiliki satu hutan pengunungan alpin-nival, yaitu hutan pengunungan Jayawijaya (Papua) dengan ketinggian 4.100-4.600 mdpl (alpin) dan lebih dari 5.000 mdpl (nival).1

Hutan Pegunungan Gede Pangrango di Jawa Barat

(sumber: mahacalaunhalu.wordpress.com)

Pegunungan (Nival) Lorenz di Papua

(sumber: beritapapua.id)

  • Savana

Savana memiliki ciri-ciri wilayah dengan curah hujan rendah (kering dan panas) dan pepohonan serta semak-belukar yang tumbuh saling berjauhan. Vegetasi yang tumbuh didominasi oleh rumput, semak-belukar, dan pepohonan. Jenis hutan ini menjadi habitat bagi banteng, rusa, burung, komodo dan bahkan penggembalaan hewan ternak. Savana dapat ditemukan di Pulau Jawa bagian timur, Nusa Tenggara hingga Papua.2

Savana Bekol di Jawa Timur

(sumber: tempatwisata.pro)

Nah.. Indonesia sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya, bukan? Sebagai penunjang informasi tambahan,  jumlah kehati yang hidup di ekosistem hutan dan daratan lainnya dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.1


Kekayaan kehati Indonesia yang sangat melimpah sudah tidak diragukan lagi ya! Tidak mengherankan jika Indonesia disebut sebagai mega bioversity dan pastinya, kehati yang tinggi ini sangat menguntungkan bagi Indonesia. Kehati dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan, obat-obatan, energi dan sandang, penyedia air dan udara bersih, perlindungan dari bencana alam, dan pengaturan iklim. Selain ini, masyarakat juga dapat memanfaatkan kehati untuk perkembangan sosial, budaya dan ekonomi.1

Namun, kekayaan alam yang melimpah ini apabila tidak dirawat dan dijaga dengan baik tentunya bisa berakibat buruk bagi kehidupan manusia maupun lingkungan. Lantas, terbesitlah dalam pikiran kita: “upaya apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian mereka?”

Ternyata pada tanggal 7 Agustus 2020 yang merupakan Festival Hari Hutan Indonesia, sekolompok komunitas lingkungan mengajak kita sebagai masyarakat umum untuk berpartisipasi dalam kampanye Adopsi Hutan. Adopsi Hutan merupakan kegiatan menjaga dan merawat hutan dan keanekaragaman hayati lainnya. Adopsi Hutan ini secara langsung dilakukan oleh warga lokal yang dekat dengan hutan dan dibantu oleh penjaga hutan. Namun, secara tidak langsung kita dapat melakukan kontribusi dalam bentuk donasi. Tentunya, donasi ini akan diberikan kepada warga lokal untuk kegiatan patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu, dan klinik kesehatan warga.3

Adopsi Hutan

(sumber: hutanitu.id)

Selain berdonasi, kita sebagai warga yang tinggal di kota dapat melakukan hal-hal sederhana untuk merawat hutan dan lingkungan. Hal-hal sederhana yang luput tapi berdampak besar bagi hutan dan lingkungan, yaitu seperti berhemat menggunakan pemakaian kertas baru (akan jauh lebih baik, apabila mendaur-ulang dan menggunakan kembali kertas daur-ulang), mengkampanyekan adopsi hutan melalui media sosial, dan mengikuti komunitas atau organisasi di bidang lingkungan agar kita bisa ikut memantau perkembangan hutan dan keanekaragaman hayati lainnya.

Jadi, mari kita bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan hutan agar Hutan Indonesia tetap lestari, keanekaragaman hayati terlindungi dan generasi penerus selanjutnya bisa menikmati!!

Salam Lestari!


#HariHutanIndonesia #HutanKitaJuara

#AdopsiHutan #HIIXBPN

#BlogCompetitionSeries 


Referensi:

  1. BAPPENAS. 2003. Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia 2003-2020: IBSAP: Dokumen Nasional. Badan Perencanaan Pembangunana Nasional; Jakarta.
  2. https://www.mongabay.co.id
  3. https://hutanitu.id


Grateful Moment

Ada satu momen yang menurutku sangat bahagia dan aku pun tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata yang tepat. Momen itu adalah satu hari ...